Wakala Rashanah bertugas melayani pendistribusian dan penukaran dinar dirham, dengan fokus pada muamalah dan merupakan dari Wakala Induk Nusantara. Tinggalkan dan jauhi riba. Mari gunakan dinar dirham untuk transaksi muamalah dan tunai zakat. Uang kertas, bunga bank dan sistem perbankan adalah ilusi perusak muamalah
24 Desember 2009
TIDAK BEROPERASI
Diinformasikan bahwa wakala rashanah libur beroperasi sejak tanggal 24 desember 2009 sampai dengan tanggal 5 januari 2010. Untuk update harian akan diusahakan, bila tidak terupdate mohon di croschek pada WIN.
5 Desember 2009
Kembalinya Wakaf Dirham dan Dinar
Wakaf memiliki peran besar dalam kemajuan ummat Islam
Anggaran wakaf tahunan Nizam al-Mulk (Menteri Utama Kesultanan Saljuk, abad ke-11 M) mencapai 600 ribu dinar emas, setara lebih dari Rp 850 milyar (Oktober 09). Wakaf ini digunakan untuk membiayai madrasah dan para gurunya. Terken Khatun, seorang putri dari Fars, juga dari Bani Saljuk (1326), memberikan wakafnya sebesar 200 ribu dinar emas (setara lebih dari Rp 280 milyar, saat ini).
Bagi kebanyakan orang sekarang dinar emas hanya mengingatkan peristiwa masa lalu itu, kalau bukan malah cuma pada dongeng Seribu Satu Malam. Tapi berbeda halnya bagi kaum Muslimin. Dinar emas, beserta pasangannya dirham perak, harus tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Seluruh ketentuan syariat yang berkaitan dengan harta (mal), nilai dan harga, timbangan, (berat ringannya) hukuman dan denda, jual-beli dan utang-piutang, serta yang terpenting - karena merupakan kewajiban - nisab dan alat bayar zakat mal dan niaga, ditakar dan dibayarkan, hanya dengan dinar emas atau dirham perak.
Bahwa dalam waktu sekitar satu abad terakhir ini, yakni sejak keruntuhan kekhalifahan terakhir, Daulah Utsmani (1924), dinar emas dan dirham perak lenyap dari kehidupan kita tidaklah mengubah ketetapan hukumnya. Menjadi kewajiban kitalah untuk mengembalikannya dan, dengan demikian, ketetapan-ketetapan syariah untuk hal-hal yang telah disebut di atas dapat kita penuhi. Dan ketika dinar emas dan dirham perak telah kembali beredar di sekitar kita, sebagaimana kini ada di wakala-wakala yang tersebar di berbagai kota Indonesia, 'kaidah darurat' yang acap dipakai sebagai pembenar sisem mata uang kertas tak dapat lagi diterima.
Karena itu, ketika akhir-akhir ini wakaf dinar emas dan dirham perak kembali diamalkan, sejarah akan mencatat para wakif ini sebagai bagian dari mereka yang menegakkan kembali syariat Islam. Wakaf dinar emas dan dirham perak itu sendiri, misalnya di Baitul Mal Nusantara (BMN) dan Tabung Wakaf Indonesia (TWI) diperuntukkan bagi pengembangan kawasan terpadu berbasis wakaf (Imarah), yang tentu memerlukan dana relatif besar. Maka, wakaf-wakaf tunai dari para wakif ini untuk sementara "harus menunggu", sampai sejumlah yang cukup untuk mengembangkan Imarah dimaksud.
Contoh lain wakaf dinar dan dirham yang bertujuan jangka pendek, yakni diperuntukkan sebagai santunan dan permodalan usaha, adalah yang dilakukan lewat Wakaf Ta'awun. Inisiatif dari masyarakat Cilincing ini relatif masih baru dan kecil dalam ukuran, tetapi memberikan manfaat langsung, dalam bentuk dana bergulir. Jumlah wakifnya sendiri telah tercatat 41 orang.
Dengan diwakafkan dalam bentuk dinar emas atau dirham perak maka uang tunai yang harus "menunggu" tersebut tidak lagi harus disimpan dalam bank yang tiada lain adalah sistem riba. Dan selama "menunggu" itu pula, wakaf tunai tersebut tidak akan mengalami kemerosotan nilai, sebagaimana kalau disimpan dalam "uang" kertas. Pengalaman empiris kita menunjukkan dinar emas mengalami apresiasi rata-rata sebesar 20ukuran 25%/tahunya. Jadi, kalau pengumpulan wakaf itu memerlukan waktu beberapa tahun maka nilai dinarnya pun, dalam rupiah, akan berlipat.
Namum, yang paling utama, adalah dengan mewujudkan wakaf tunainya berupa dinar emas, para wakif telah memelopori kembalinya wakaf tunai sepenuhnya mengikuti sunnah Rasul SAW dan amal para Sahabat. Kita berharap di antara kaum Muslimin sekarang ini juga akan lahir wakif-wakif besar seperti halnya Wazir Nizam Al Mulk di atas.
24 November 2009
10 November 2009
DINAR DIRHAM, Tangan ke Tangan, APA SALAHNYA?
Ketika dolar akan kuat, emas muncul untuk turun, dan sebaliknya. Uang kertas lah yang bertanggung jawab atas bagian dari fluktuasi yang kita lihat dalam nilai emas.
Bagian lainnya adalah peningkatan aktual penawaran atau permintaan untuk emas. Jika harga lebih tinggi ketika diukur tidak hanya dalam Dollar AS, tetapi juga di Euro, Poundsterling, Yen Jepang, dan setiap mata uang utama lainnya, maka kita tahu permintaan emas lebih tinggi dan memiliki nilai benar-benar meningkat.
Akibatnya, jika emas dalam Dollar AS lebih tinggi, sementara pada saat yang sama lebih murah di setiap mata uang lain, maka sebagian dari kita dengan mudah menyimpulkan harga emas itu sebenarnya telah kehilangan nilai dalam semua mata uang lainnya. Tapi harga, karena sedang dikutip dalam $ USD akan lebih tinggi dan memberikan ilusi emas menjadi lebih berharga. Dalam kasus seperti devaluasi emas, karena peningkatan pasokan di pasar, yang disamarkan oleh melemahnya US Dollar.
Itu sebenarnya menunjukan kestabilan nilai emas bila di hadapkan dengan mata uang apapun. Artinya nilai EMAS anda secara real adalah TETAP. Dilihat dalam contoh ini, antara rupiah, dolar dan emas. Harga emas secara real telah naik drastis dalam dolar, TETAPI, karena dolar sedang melemah terhadap RUPIAH. Terlihat harga emas dalam RUPIAH tidaklah naik secara drastis. Disini, walaupun rupiah menguat terhadap dolar yang berarti, katakanlah daya beli pemilik rupiah menguat, tapi faktanya kita akan tetap mengeluarkan nominal rupiah yang lebih banyak untuk membeli suatu komoditas. Berbanding terbalik dengan emas, disini kita akan mengeluarkan emas lebih sedikit untuk membeli suatu komoditas. Artinya mau rupiah menguat atau melemah terhadap dolar, begitupun sebaliknya. Daya beli emas terhadap komoditas tidaklah akan terpengaruh.
Karena itu, supaya kita tidak menzalimi orang lain ketika bermuamalah, mulailah dinar dirham kita bersikulasi dari tangan ke tangan untuk bertransaksi. Pertama untuk menghindari penurunan nilai suatu produk, barang dan jasa. Juga supaya kita mengurangi ketergantungan kita terhadap uang kertas.
4 November 2009
Kaya tetapi miskin
Dasarnya devisa suatu negara diperuntukan :
1. Alat tukar luar negeri (perdagangan, ekspor, impor, dan seterusnya).
2. Alat pembayaran utang luar negeri.
3. Alat pembiayaan negara
4.Sebagai indikator kekayaan suatu negara.
Untuk point nomer 4, dalam kurun waktu 11 bulan. Terhitung akhir desember 2008, sampai dengan akhir september 2009. Cadangan devisa kita dalam bentuk US$ meningkat 20.6%, yaitu dari US$ M 51,639.32 meningkat menjadi US$ M 62,287.15. Terlepas dari manakah penambahan tersebut, apakah hutang atau memang negara kita surplus perdagangan. Pasti banyak dalam benak masyarakat maupun di pemerintahan sendiri yang mengatakan, . Dan harga kebutuhan pokok akan terjangkau. Ya kalimat terjangkau saya pergunakan, dan bukannya
Jangan pula percaya bila dikatakan inflasi masih dibawah 6%, sadarilah semakin lama ketergantungan masyarakat pada uang kertas yang tidak diikatkan pada emas dan perak. Inflasi akan selalu lebih tinggi dari pada cadangan devisa yang ada.
Karena para bankir akan terus mencetak semaunya nilai yang mereka inginkan pada lembaran kertas yang harganya tidak sebanding dengan daya belinya.
28 Oktober 2009
Muslim Dunia Gunakan Dirham WIN
Sumber berita
Selai
n mendengarkan paparan perkembangan penerapan Dirham dan Dinar di Indonesia yang disampaikan oleh Bpk Zaim Saidi, Direktur WIN, peserta Konferensi Fikih Islam Internasional, di Cape Town, 17-18 Oktober lalu, berkesempatan untuk memiliki koin-koin WIN. Di antara koin-koin WIN rupanya yang paling banyak diminati adalah koin Dirhamayn, yakni koin 2 Dirham, yang bercorak Masjid Agung Cirebon. Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya, koin Dirhamayn yang dicetak Amirat Indonesia telah mendapatkan restu dari Kesultanan Kasepuhan Cirebon.
"Ukuran, ketebalan, dan corak koin ini sangat bagus," kata Abdalhalim Moliniero, Muslim dari Spanyol, mengomentari Dirhamayn WIN. Ia menukarkan beberapa koin perak 2 Dirham ini dengan sisa euro yang dimilikinya untuk dibawa ke Granada. Hari itu nilai tukar 1 Dirham adalah 2.2 euro.
Selain Haji Abdalhalim koin-koin Dirham dan Dirhamayn WIN ditukar oleh sejumlah peserta lain dari beberapa negara berbeda. Ahmad Gross, Amir komunitas Muslim di Postdam, Jerman, misalnya, juga membawa pulang sejumlah Dirham dan Dirhamayn WIN. Lalu ada Sidi Abdal Aziz, delegasi dari Maroko, lalu Haji Mahmud Lund dari Jerman. Amir Harun Sidorov dari komunitas Muslim Rusia juga sangat menyukai koin WIN. Maulana Afroz dari India dan Mukhtar Gul dari Pakistan kini juga memiliki Dirham dan Dirhamayn WIN. Tentu saja, peserta dari Afrika Selatan sendiri, banyak yang mengambil koin-koin WIN. Yasser Booley dari Cape Town menukarkan 2 koin 1 dirham yang dicetak di Dubai dengan 1 Dirhamayn WIN
Selama dua hari konferensi juga digelar bazar, khususnya untuk buku-buku, CD, dan beberapa jenis barang lainnya, di mana Dirham dan Dirhamayn WIN dipakai sebagai alat pembayaran. Buku Collected Work karya Ian Dallas, misalnya, dapat dibeli dengan harga 10 Dirham. Buku kitab wird dan kumpulan diwan dari Almarhum Syekh Muhammad Ibn al Habib, yang berasal dari Maroko, dijual dengan harga 4 Dirham. Buku Qur'anic Tauhid, karya Shaykh Abdalqadir as Sufi, dapat dibeli dengan harga 5 Dirham.
Karena terbuat dari perak yang universal, meski bercorak nasional, Dirhamayn WIN pun diterima secara internasional. Dengan alat tukar universal kita tak perlu dipusingkan oleh perbedaan kurs yang selalu merugikan, sebagaimana dalam sistem uang kertas.
19 Oktober 2009
6 Oktober 2009
RUPIAH MENGUAT, SO WHAT GETO LOH
Berita terakhir, nilai rupiah menguat pada nilai 9.560/ us dolar pada hari senin (5/10/09). Tapi Tapi apa gunanya untuk kita. Rupiah dibuat seolah perkasa, tapi basicnya daya beli kita tetaplah melemah. Tarif tol sudah dinaikan, berikutnya yang sedang menunggu momen adalah harga LPG dan tarif dasar listrik.
Sampai kapan mau menunggu untuk hijrah dari uang kertas kepada uang nyata. Sampai uang kita tidak ada harganya lagi. Jangan melihat nilai angka dari mata uang yang kita pegang, tapi lihatlah daya beli yang bisa kita belanjakan dengan uang kita, hanya dinar dan dirhamlah yang insya Allah stabil sampai akhir masa.
2 Oktober 2009
Pemberitahuan Resmi WIN - Pasar, koin dan nilai tukar
Pengumuman mengenai pasar terbuka, koin dinar dirham dan nilai tukar
Bismillahi r-rahmani r-rahim Ashadu ala ilaha illa llahu wa ashadu ana Muhammadur-Rasulullah Allahumma salli� ala Sayyidina Muhammad din �abdika wa rasulika n-nabiyyi l-� ummiyi wa-�ala �alihi wa-sahbihi wa-salim taslima.
Assalamu alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh
Saya mohonkan kepada Allah, subhanahu wa ta ala, agar kita semua selalu berada dalam perlindunganNya
Dalam kewajiban yang telah diamanahkan kepada saya oleh Amir Zaim Saidi, khususnya dalam hal yang berkaitan dengan Dinar Dirham serta aplikasinya seperti jaringan wakala, pendirian pasar, dan payment system, dengan ini saya umumkan kebijakan Wakala Induk Nusantara yang efektif berlaku mulai hari �Kamis 1 Oktober 2009. Kebijakan ini merupakan implementasi dari Maklumat Amir Indonesia yang telah ditetapkan pada tanggal 8 September 2009.
- Koin-koin Dinar dan Dirham, dalam satuan-satuan yang telah ada (0.5, 1 dan 2 Dinar serta 1, 2, 5 dan 10 Dirham) sepanjang memenuhi persyaratan syariat dalam kadar dan beratnya serta diakui keberadaannya oleh Amirat Indonesia, diperbolehkan beredar dan digunakan sebagai alat tukar di pasar-pasar.
- Ketetapan mengenai nilai tukar koin-koin Dinar dan Dirham tersebut di atas diberlakukan secara tunggal, mengikuti yang berlaku di pasar-pasar, sebagaimana ditetapkan oleh Amirat Indonesia melalui Wakala Induk Nusantara (WIN), baik pada saat hari pasaran berlangsung maupun di luar hari pasaran.
- Tanggungjawab dan wewenang untuk penyelenggaraan pasar-pasar di wilayah Jabodetabek berada di Amir Zaim Saidi langsung, selaku Amir Indonesia yang berkedudukan di Depok, dan secara teknis dilaksanakan oleh Bapak Tri Wibowo, Al Wakil Wakala Al Bana, di bawah koordinasi dengan Wazir Abdarrahman Rachadi.
30 September 2009
Daya beli dan bukan nominal
Hal ini saya utarakan untuk menjawab kekuatiran dari pemilik dinar dirham yang membeli dinar dirham diharga tinggi kemarin menjelang Ied Fitri 1430 H yang lalu. Penjelasan secara umumnya adalah kenapa dinar dirham tinggi, adalah karena memang nilai emas dan perak secara dolar tinggi menjelang Ied Fitri 1430 H dan diikuti oleh melemahnya dolar terhadap mata uang Indonesia (rupiah).
Justru tidaklah pernah rugi membeli dinar dirham "BILA" memang bertujuan muamalah dan penjaga aset. Lain halnya bila untuk spekulan sesaat yang berlaku sehari atau sebulan saja. Bila sekarang dinar dirham turun lagi tidaklah salah. TAPI yang harus dilihat turunnya dinar dirham itu adalah dalam mata uang "RUPIAH". Karena bila berkaca pada mata uang "DOLAR" Justru harga dinar dirham ini cukup tinggi.
Siapa yang bisa menjamin rupiah akan terus perkasa terhadap dolar. Karena aktualnya rupiah menguat karena dolar memang sedang dibuat murah. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya pinjaman pihak asing dalam bentuk dolar yang ditukarkan dalam bentuk rupiah dengan tujuan bermain dalam bursa saham dan valas. Hal ini dikarenakan bursa diIndonesia dilihat masih bisa ambil untung dibanding bursa dieropa dan amerika yang porak poranda.
Kembali ke paragraf pertama, bahwa dapat "APA" kita dengan dinar dirham. Allhamdullilah pada tanggal 7 syawal 1430 H, telah terjadi muamalah dengan dinar senilai 50 keping dinar ditambah 1,5 juta rupiah untuk transaksi sebuah mobil jenis MPV. Masih adanya tambahan 1.5 juta rupiah adalah dalam bentuk perpanjangan pajak kendaraaan yang dilakukan sang penjual. Disini sang penjual tidak mengkonversikan nilai rupiah ke dinar ataupun sebaliknya. Walaupun terjual setelah Ied Fitri, dimana justru harga dinar melemah, sang penjual tidak menaikan harganya untuk menyesuaikan terhadap rate dinar. Bahkan setelah ditawar,harga malah menurun 3 dinar dari harga pertama yang ditawarkan. Sang penjual dengan jujur membuka semua kelemahan dari mobil yang dijualnya dan sang pembeli puas setelah mengecek dan mencobanya. Itulah indahnya muamalah dalam Islam. Tawar menawar dan kejujuran dalam hal jual beli, hal yang hilang dari sistem kapitalis saat ini
